Nggak bisa dipungkiri saban kali nyetel lagunya Secondhand Serenade, pasti teringat dengan Dashboard Confessional. Hal ini nggak bisa dipungkiri, jack! Pasalnya, rumusnya serupa tapi tak sama. Genjrengan gitar yang mendominasi lagu, notasi yang penuh emosi, dengan lirik yang banyak menggambarkan tentang cinta.
Nggak usah lah menyebut musik Secondhand Serenade sebagai emo. Udah basi cing! Yang pasti, lagu-lagunya menyentuh, dan terasa intim kapan pun didengarkan.
Siapa sih otak dibalik lagu-lagu penuh emosi milik Secondhand Serenade?
Nama John Vesely adalah sosok dibalik Secondhand Serenade. Yap! Secondhand Serenade hanya diotaki oleh satu orang aja cing! Makin mirip sama Dashboard Confessional nggak?
John memutuskan untuk menggunakan nama Secondhand Serenade mulai dari tahun 2004. Dibesarkan di San Fransisco Bay Area, John tumbuh di dalam lingkungan musisi. Ayahnya adalah seorang musisi jazz professional, jack! Nggak heran kalau menurutnya John, bergelut di dunia musik adalah sesuatu yang natural baginya.
.jpg)
Delapan tahun dihabiskan John sebagai bassis di scene musik yang ada di area San Fransisco. Nggak Cuma di satu dua band aja John pernah merasakan jadi bassis. Mulai dari band rock, pop, ska, sampai hardcore, semua dijabanin, jack!
Sampai suatu saat dia bertemu seorang cewek, yang kelak jadi istrinya, Breanna Russell. John memutuskan untuk nggak lagi jadi seorang bassis. Pilihannya jatuh pada sebuah gitar akustik.
“Mulai dari situ, saya mulai mencoba untuk membuat lagu sendiri, bermodalkan gitar akustik. Tentunya juga dengan modal cinta saya pada istri saya,” ujar John.
Ditambah lagi, sang istri senang banget saat John menyanyikan hasil karyanya. Menurut sang istri, lagu-lagu bikinan John bagaikan sebuah serenata untuknya. Nggak heran kalau John memilih nama Secondhand Serenade sebagai nama panggungnya. Lagu-lagunya adalah sebuah serenata yang dibuat untuk sang istri, sementara orang lain di seluruh dunia bakal mendengar serenata tersebut secara secondhand.
Nggak pakai lama, John langsung berinisiatif untuk maju terus di karir bermusiknya. Alih alih mencari partner untuk membentuk sebuah band, John malahan terus asik membuat lagu, dan merekamnya sendiri di sebuah studio. Hal ini dilakukan John di awal tahun 2005 lalu.
“Saat itu saya hanya menggunakan sebuah gitar akustik, dan beberapa track untuk vokal. Dan jadilah album yang berjudul Awake,” terang John, santai.

Ya. Di tahun yang sama, John merilis album Awake, dan mulai mempromosikannya lewat jalur dunia maya. Orang yang ingin membeli cd-nya bisa mendapatkannya lewat cara mail order.
Tanpa disangka, album Awake sukses berat, jack! Banyak orang yang membeli cd-nya lewat mail order, dan tentunya mengunduh lewat bantuan beberapa situs. Gossip-gosipnya, John mendapat keuntungan sampai sekitar 20ribu dolar Amrik lho!
“Sukses tersebut nggak lepas dari situs MySpace. Situs tersebut sangat membantu saya dalam soal distribusi musik,” tambah John lagi.
Nggak heran kalau Glassnote Records kemudian tertarik mengontrak Secondhand Serenade. Dan selanjutnya, perjalanan bermusik John, makin bervariatif.
Di bawah asuhan Glassnote Records, John merilis ulang album Awake, dengan tambahan dua buah lagu baru, di awal tahun 2007. Tanpa menunggu lama, album tersebut langsung bertengger di banyak tangga lagu, jack!
Tampang John mulai bermunculan di banyak stasiun tv. Mulai dari MTV, Late Night Show, sampai semacam AOL Music, dan Yahoo! Music. Namanya pun makin membesar saat Secondhand Serenade mulai ikutan berbagai macam festival musik. Tur bareng All American Reject, Hawthorne Height, sampai ikutan di festival South By Southwest, dan Bamboozle, yang juga diikuti oleh My Chemical Romance dan Linkin Park.
Meskipun dia naik panggung seorang diri dalam festival musik sebesar itu, ternyata John nggak pernah ambil pusing!
“Itu bukan masalah bagi saya. Saya udah terbiasa untuk bermain solo, sendirian. Jadi nggak ada masalah dengan bermain sendirian di depan banyak orang. Saat nggak ada orangyang menonton saya bermain, itu baru masalah,” terang John, santai.

Sukses dengan single Vulnerable dan album Awake, nggak membuat John lantas besar kepala cing! Langkah selanjutnya adalah membuat album kedua. Di awal tahun 2008, Secondhand Serenade merilis album berjudul A Twist In My Story.
Album tersebut nggak hanya berisi lagu-lagu baru aja. Ada juga beberapa lagu lama, yang direkam ulang oleh John.
Hey! Bukankah langkah seperti itu mirip dengan yang pernah dilakukan Chris Carabba dengan Dashboard Confessionalnya!
“Saya memasukkan lagi banyak lagu lama di album baru, karena saya ingin melakukan banyak tambahan di lagu tersebut. Saat pertama kali saya merekam lagu-lagu tersebut, banyak keterbatasan yang harus saya hadapi. Kali ini, saya punya kesempatan untuk membuat lagu tersebut seperti apa yang saya inginkan sebenarnya,” terang John panjang lebar.
Benar aja, jack! Selain menggunakan format full band dalam album keduanya, John juga banyak membuat perubahan di lagu-lagu lama macam Your Call dan Maybe. Di lagu Your Call, John menambahkan banyak string section disana sini. Sementara di lagu Maybe, John hanya membetulkan beberapa komposisi yang dianggapnya kurang pas.
Perihal isi di lagu-lagu barunya, John masih menganggap emosi tentang cinta adalah intinya. Bedanya dengan album sebelumnya adalah, subjek yang ditulis oleh John. Kalau di album Awake, John membuat lagu-lagu untuk sang istri, lain dengan album A Twist In My Story.
Sesuai dengan judul albumnya, John memberi beberapa twist di dalam formula penuh emosi andalannya.
“Ya, lebih banyak variasi dalam lagu-lagu yang saya tulis. Kali ini, nggak lagi hanya fokus di satu orang. Masih spesifik tentang hal-hal yang personal, dan masih tanpa basa basi, dengan penulisan yang apa adanya,” tutup John.
John terus membuai penggemarnya dengan teriakan-teriakan penuh emosi tentang cinta. Semua itu dilakukannya dengan tulus, karena berangkat dari tulusnya cinta John pada sang istri. Dan semua itu dilakukannya seorang diri
.
video secondhand serenade - your call click here
video secendhand serenade - fall for you click here
dikutip dari Hai Online Magazine