Kemana pasar Blok M-ku...?
Sepulang dari perantauan ku di kota serang, banten, saya punya keinginan untuk refresh sejenak menikmati kota jakarta. Berhubung rumah saya masih di daerah cileduk, dari serang rutenya bisa lewat cikokol langsung ke cileduk kira-kira 45 menit-an lah pasnya, ga bisa kurang...... Tapi berhubung saya mau refresh pikiran, hati dan dompet, jadilah saya turun di terminal kalideres, jakarta barat, di antar sang jagoan jalanan tol tangerang-merak " Benteng Jaya ".. hhi..

Sesampainya di terminal kalideres, kaki ini kuayuhkan menuju halte busway milik sutiyoso, yang katanya sih kendaraan anti macet di jakarta, tapi tetep ya, kalo gak macet di jalan, yaa, macet di haltenya, antriannya itu loh.. kalo kata julia perez sih.." Gak Nahan... Bang....". setelah beli tiket yang harganye 3500 perak, ntu bis langsung tancep dah ngelewatin mobil-mobil yang kejebak macet di jalan ( berhubung di jakarta, betawie mode:on ).
Selama di perjalanan, mata ini tidak tertarik untuk sekedar lihat jejeran gedung di kanan - kiri, tapi ada sesuatu yang menarik untuk diperhatikan di dalam bus. Biasa laki - laki, apalagi kalau bukan perempuan, Hhe..
Kalau menurut perkiraanku, perempuan itu masih berumur 24 tahun-an, putih, yg pasti cantik.. mulai dari jeansnya yg super ketat, sampai t-shirt putihnya yang juga ketat membuat perjalanan ini semakin asyik...
Saya transit di simpang Harmoni, kemudian naik bus lagi yang menuju Blok M. Rencana awalnya sih dari blok m mau langsung balik
ke cileduk. tapi sekali lagi mata ini tak bisa di tahan, ketika turun di blok m langsung kaki ini di ayuhkan menuju mall yang ada di basement itu, satu persatu gerai mulai kumasuki, kebetulan jeans yang saya pakai sudah butut, kata teman saya sih " sama kaya yang pakai apalagi mukanya" hho... tapi harga di sana ngga ada yang cocok, ya sudahlah saya urungkan niat, jadi saya langsung mengalihkan kaki ini menuju pasar blok m yang ada di atas, biasanya cuma dengan 40ribu saya udah bisa bawa pulang tas yang lumayan bagus..
Tapi tunggu dulu...... kemana pasarnya ?? ko hilang, ada yang mencurinya kah ? atau di angkut satpol pp, ah gak mungkin pasar segitu luasnya ko di angkut satpol...
trus kemana?? atau mungkin di culik kolong wewe,,
Hmm, sempet bingung, lirik sana - lirik sini, eh ada beberapa sisa pedagang ( kaset/cd ), mau coba saya tanya, tapi nanti jawaban-nya malah yang aneh lagi..
Tanya saya.. " Pedagang yang lain pada kemana mas ?"
Mungkin akan dijawab seperti ini oleh pedagang kaset/cd..
" Pada nonton miyabi mas, nih saya punya film-nya goceng serauk ko mas, dogy style, kodok style, tengkurep style, nungging style, lengkap deh mas... ada juga yang Bule.... ( haha.. gak kebayang bilang bule, gak taunya yg main orang kebumen, " iki masukin njelimet toh mas... aduuh....)"
Tak lama saya lanjutkan berjalan, ternyata sudah berdiri bangunan mungkin lebih mirip plaza.. ya, namanya Blok M square. bukan milik pedagang pastinya.. Mungkinkah ini akibat kapitalisme, atau mungkin karena ini jakarta bung !! yang ada itu ya mall bukan pasar !! yang pasti ketika saya coba masuk ke dalam, mood ini langsung hilang. Yang saya harapkan bukan estetika dari berdirinya gedung itu tapi bagaimana aktivitas sosial pasar bisa memberikan ekspektasi yang lebih bagi pada customer.
saya flash black mengingat pasar blok m dulu, dimana kita bisa dengar suara yang menawarkan barang, teriak 15 ribu dua, ikat pinggang , jeans, trus masih ingat teriakan " kaos-nya mas !! imoet,, kaya mas, " hhe... jadi senyum - senyum sendiri..
Tapi ya itulah jakarta kini, era kapitalis menghabisi para pemodal kecil.. sudah tak terhitung berapa banyak tempat milik masyarakat kecil yang di bumi hanguskan dengan alasan ruang kota, estetika dan apalah itu,, tapi yang muncul bukan tempat sosial tapi lahan swasta milik pemodal.
Sudah banyak yang dikorbankan, pasar blok m, pasar barito, dan pasar rawasari, padahal disana lah produk anak bangsa di perdagangkan. Jadi benar apa kata pepatah kuno " Homo homoni Lupus "dimana manusia menjadi serigala bagi manusia lain, dan yang kuat dialah yang berkuasa, lalu orang kecil..... ke Laut aje..
huff.. bosan liat pemandangan itu plaza, saya memilih pulang naik metromini 69, langsung ke cileduk hampir setengah jam perjalanan sampai juga di rumah... Surga terindah mungkin.
eitss, ngga langsung tidur... ngopi dulu sambil facebooking , tidur ngga afdol kalau belum buka si "Buku Wajah" itu. hhe..
Sepulang dari perantauan ku di kota serang, banten, saya punya keinginan untuk refresh sejenak menikmati kota jakarta. Berhubung rumah saya masih di daerah cileduk, dari serang rutenya bisa lewat cikokol langsung ke cileduk kira-kira 45 menit-an lah pasnya, ga bisa kurang...... Tapi berhubung saya mau refresh pikiran, hati dan dompet, jadilah saya turun di terminal kalideres, jakarta barat, di antar sang jagoan jalanan tol tangerang-merak " Benteng Jaya ".. hhi..

Sesampainya di terminal kalideres, kaki ini kuayuhkan menuju halte busway milik sutiyoso, yang katanya sih kendaraan anti macet di jakarta, tapi tetep ya, kalo gak macet di jalan, yaa, macet di haltenya, antriannya itu loh.. kalo kata julia perez sih.." Gak Nahan... Bang....". setelah beli tiket yang harganye 3500 perak, ntu bis langsung tancep dah ngelewatin mobil-mobil yang kejebak macet di jalan ( berhubung di jakarta, betawie mode:on ).
Selama di perjalanan, mata ini tidak tertarik untuk sekedar lihat jejeran gedung di kanan - kiri, tapi ada sesuatu yang menarik untuk diperhatikan di dalam bus. Biasa laki - laki, apalagi kalau bukan perempuan, Hhe..
Kalau menurut perkiraanku, perempuan itu masih berumur 24 tahun-an, putih, yg pasti cantik.. mulai dari jeansnya yg super ketat, sampai t-shirt putihnya yang juga ketat membuat perjalanan ini semakin asyik...
Saya transit di simpang Harmoni, kemudian naik bus lagi yang menuju Blok M. Rencana awalnya sih dari blok m mau langsung balik
ke cileduk. tapi sekali lagi mata ini tak bisa di tahan, ketika turun di blok m langsung kaki ini di ayuhkan menuju mall yang ada di basement itu, satu persatu gerai mulai kumasuki, kebetulan jeans yang saya pakai sudah butut, kata teman saya sih " sama kaya yang pakai apalagi mukanya" hho... tapi harga di sana ngga ada yang cocok, ya sudahlah saya urungkan niat, jadi saya langsung mengalihkan kaki ini menuju pasar blok m yang ada di atas, biasanya cuma dengan 40ribu saya udah bisa bawa pulang tas yang lumayan bagus..Tapi tunggu dulu...... kemana pasarnya ?? ko hilang, ada yang mencurinya kah ? atau di angkut satpol pp, ah gak mungkin pasar segitu luasnya ko di angkut satpol...
trus kemana?? atau mungkin di culik kolong wewe,,
Hmm, sempet bingung, lirik sana - lirik sini, eh ada beberapa sisa pedagang ( kaset/cd ), mau coba saya tanya, tapi nanti jawaban-nya malah yang aneh lagi..
Tanya saya.. " Pedagang yang lain pada kemana mas ?"
Mungkin akan dijawab seperti ini oleh pedagang kaset/cd..
" Pada nonton miyabi mas, nih saya punya film-nya goceng serauk ko mas, dogy style, kodok style, tengkurep style, nungging style, lengkap deh mas... ada juga yang Bule.... ( haha.. gak kebayang bilang bule, gak taunya yg main orang kebumen, " iki masukin njelimet toh mas... aduuh....)"
Tak lama saya lanjutkan berjalan, ternyata sudah berdiri bangunan mungkin lebih mirip plaza.. ya, namanya Blok M square. bukan milik pedagang pastinya.. Mungkinkah ini akibat kapitalisme, atau mungkin karena ini jakarta bung !! yang ada itu ya mall bukan pasar !! yang pasti ketika saya coba masuk ke dalam, mood ini langsung hilang. Yang saya harapkan bukan estetika dari berdirinya gedung itu tapi bagaimana aktivitas sosial pasar bisa memberikan ekspektasi yang lebih bagi pada customer.
saya flash black mengingat pasar blok m dulu, dimana kita bisa dengar suara yang menawarkan barang, teriak 15 ribu dua, ikat pinggang , jeans, trus masih ingat teriakan " kaos-nya mas !! imoet,, kaya mas, " hhe... jadi senyum - senyum sendiri..
Tapi ya itulah jakarta kini, era kapitalis menghabisi para pemodal kecil.. sudah tak terhitung berapa banyak tempat milik masyarakat kecil yang di bumi hanguskan dengan alasan ruang kota, estetika dan apalah itu,, tapi yang muncul bukan tempat sosial tapi lahan swasta milik pemodal.
Sudah banyak yang dikorbankan, pasar blok m, pasar barito, dan pasar rawasari, padahal disana lah produk anak bangsa di perdagangkan. Jadi benar apa kata pepatah kuno " Homo homoni Lupus "dimana manusia menjadi serigala bagi manusia lain, dan yang kuat dialah yang berkuasa, lalu orang kecil..... ke Laut aje..
huff.. bosan liat pemandangan itu plaza, saya memilih pulang naik metromini 69, langsung ke cileduk hampir setengah jam perjalanan sampai juga di rumah... Surga terindah mungkin.
eitss, ngga langsung tidur... ngopi dulu sambil facebooking , tidur ngga afdol kalau belum buka si "Buku Wajah" itu. hhe..

